Skip to content

PROSPERITA IT NEWS

Connect with Us

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.

Tags

2FA anti bocor data anti maling antivirus Andal antivirus andalan Antivirus Canggih Antivirus ESET antivirus hebat antivirus jempolan Antivirus Komprehensif antivirus nomor satu Antivirus Nomor Wahid Antivirus Papan Atas Antivirus Populer Antivirus Super antivirus superb Antivirus Super Ringan anti virus super ringan Antivirus Tangguh Antivirus Terbaik Antivirus Top BacaPikirshare BacaPikriShare Cyber security Data Security Edukasi KOnsumen Edukasi Siber ESET ESET deteksi Ransomware ESET Indonesia ESET PArental Control GreyCortex Keamanan Komputer Malware News prosperita Parental Control phising Prosperita Ransomware Riset ESET Super Ringan tips Tips & Trik Trojan vimanamail

Categories

  • Edukasi
  • Mobile Security
  • News Release
  • Ransomware
  • Sektor Bisnis
  • Sektor Personal
  • Teknologi
  • Tips & Tricks
  • Uncategorized
  • Home
  • Home
  • Teknologi
  • Satu Server Ribuan Korban
  • Sektor Personal
  • Teknologi

Satu Server Ribuan Korban

4 min read
Satu Server Ribuan Korban

Image credit: magnific

Satu Server Ribuan Korban – Platform Remote Monitoring and Management (RMM) merupakan salah satu komponen paling penting dalam operasional penyedia layanan TI (Managed Service Provider/MSP).

Melalui platform ini, administrator dapat memantau, mengelola, memperbarui perangkat lunak, hingga mengakses komputer pelanggan dari jarak jauh.

Namun, ketika platform tersebut berhasil ditembus, dampaknya dapat menjalar ke seluruh perangkat yang dikelolanya.

Hal inilah yang baru-baru ini terjadi pada N-able N-central, setelah perusahaan mengungkap bahwa pelaku ancaman berhasil mengeksploitasi kerentanan baru untuk memperoleh akses administratif ke server pelanggan.

Celah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengendalikan sistem lain yang berada di bawah pengelolaan N-central.

Kerentanan Baru Berasal dari Celah Lama

N-able mengungkapkan bahwa pada 31 Juli 2026, timnya mendeteksi peningkatan masalah lisensi pada pelanggan N-central versi on-premises.

Investigasi yang dilakukan kemudian menemukan bahwa kerentanan CVE-2026-18556, yang sebelumnya telah diperbaiki, ternyata masih memiliki jalur eksploitasi lain yang belum tertutup sepenuhnya.

Pelaku ancaman memanfaatkan jalur baru tersebut untuk mendapatkan hak akses administrator pada server N-central yang belum diperbarui. Kerentanan baru ini kemudian didaftarkan sebagai CVE-2026-18577 dengan skor CVSS 8.2, yang menunjukkan tingkat keparahan tinggi.

Bagaimana Serangan Dilakukan?

Setelah berhasil memperoleh akses administratif ke server N-central, penyerang tidak berhenti di sana. Mereka memanfaatkan fitur bawaan Take Control, yaitu fasilitas remote desktop milik N-central, untuk masuk ke berbagai perangkat yang dikelola oleh server tersebut.

Di dalam perangkat korban, pelaku kemudian membuat layanan baru menggunakan Cloudflare Tunnel. Teknik ini memungkinkan mereka mempertahankan akses bahkan setelah administrator berhasil mencabut akses ke server N-central.

Dengan kata lain, meskipun server utama telah diamankan, penyerang masih dapat kembali masuk melalui jalur yang telah mereka tanam sebelumnya.

Baca juga: Pengguna Windows Hati-hati Ancaman Siber Ini

Mengapa Serangan Ini Sangat Berbahaya?

Berbeda dengan serangan terhadap komputer biasa, kompromi terhadap server RMM memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar.

Server N-central memiliki hak untuk:

  • Menjalankan script pada perangkat klien.
  • Mengirim dan memasang aplikasi.
  • Melakukan patch sistem.
  • Membuka sesi remote desktop.
  • Mengelola ratusan hingga ribuan endpoint secara bersamaan.

Karena itulah para peneliti menggambarkan kompromi terhadap server RMM layaknya memperoleh “god mode” dalam sebuah permainan, yaitu hak penuh untuk mengendalikan seluruh lingkungan TI yang berada di bawah pengelolaannya.

Aktivitas Penyerang Setelah Berhasil Masuk

Peneliti Huntress yang turut mengamati insiden ini menemukan bahwa pelaku biasanya melakukan beberapa langkah berikut setelah berhasil masuk:

  • Menggunakan akses N-central untuk berpindah ke server bernilai tinggi, terutama Domain Controller.
  • Mengambil daftar proses (process list) yang sedang berjalan guna memahami lingkungan korban.
  • Menentukan target lanjutan berdasarkan layanan yang aktif.
  • Mempertahankan akses menggunakan Cloudflare Tunnel.
  • Berpotensi menyebarkan tool maupun script ke seluruh endpoint yang dikelola.

Walaupun saat ini eksploitasi masih terbatas pada sejumlah kecil pelanggan, para peneliti menilai seluruh implementasi N-central yang belum diperbarui tetap berada dalam kondisi berisiko tinggi.

Masih Banyak Server yang Belum Ditambal

Menurut peneliti, hampir seluruh pelanggan layanan cloud telah menerima pembaruan secara otomatis. Namun situasinya berbeda pada instalasi mandiri (self-hosted).

Hasil pemantauan menunjukkan:

  • Sekitar 13,6% server N-central yang masih dapat dijangkau belum dipatch.
  • Pada implementasi self-hosted, sekitar 28,6% server masih menjalankan versi yang rentan.

Artinya, masih terdapat cukup banyak organisasi yang berpotensi menjadi sasaran eksploitasi apabila belum segera melakukan pembaruan.

Baca juga: Tiga Elemen Penting Menghadapi Ancaman Siber

Langkah Mitigasi yang Direkomendasikan

Bagi organisasi yang menggunakan N-able N-central, beberapa tindakan berikut sangat disarankan:

  1. Segera lakukan pembaruan ke versi N-central 2026.3.1.7 atau versi terbaru yang telah disediakan N-able.
  2. Periksa seluruh akun administrator untuk memastikan tidak ada akun baru yang dibuat tanpa izin.
  3. Audit aktivitas remote control melalui fitur Take Control guna mendeteksi sesi yang mencurigakan.
  4. Tinjau konfigurasi sistem dan identifikasi perubahan yang tidak sesuai dengan operasional normal.
  5. Cari indikator kompromi (IoC) yang telah dipublikasikan oleh N-able maupun Huntress.
  6. Periksa keberadaan Cloudflare Tunnel atau layanan baru yang tidak dikenal pada endpoint.
  7. Pertimbangkan menonaktifkan sementara N-central apabila ditemukan indikasi kompromi hingga proses investigasi selesai.
  8. Pantau Domain Controller dan server penting lainnya untuk memastikan tidak terjadi pergerakan lateral dari akun administrator yang disusupi.

Platform Manajemen Bukan Titik yang Aman

Kasus ini kembali menunjukkan bahwa platform administrasi seperti RMM, backup server, identity server, maupun management console merupakan target bernilai tinggi bagi kelompok peretas.

Alih-alih menyerang setiap komputer satu per satu, mereka cukup mengambil alih satu server pengelola untuk memperoleh akses ke seluruh jaringan.

Bagi organisasi yang menggunakan solusi manajemen TI, pembaruan keamanan harus menjadi prioritas utama. Selain memastikan patch selalu terpasang, audit rutin terhadap aktivitas administrator, penerapan autentikasi multifaktor (MFA), pemantauan akses jarak jauh, serta evaluasi konfigurasi keamanan perlu dilakukan secara berkala.

Dengan pendekatan tersebut, organisasi dapat mengurangi risiko ketika muncul kerentanan baru pada infrastruktur yang memiliki hak akses luas terhadap seluruh lingkungan TI

 

 

 

 

 

Baca artikel lainnya: 

  • Ancaman Ransomware Terbaru Incar Sistem Modern HybridPetya
  • Cara Menjaga Mental Anak dari Ancaman Dunia Maya
  • Ancaman Siber Baru yang Merusak Server Windows
  • Dunia Siber Cemas Kekuatan AI Terpadu Mengancam
  • AwanPintar.id® Laporan Ancaman Digital Semester 1 tahun 2025
  • SIM Swapping Ancaman Serius yang Mengintai Pengguna Ponsel
  • Ancaman Baru Berbahaya Sextortion Berbasis AI
  • Munculnya Ancaman Baru dan Strategi Pertahanan yang Harus Diadopsi
  • Mengapa Kaum Muda Lebih Rentan terhadap Ancaman Siber
  • Ancaman Ransomware Baru dengan Taktik Mirip Kelompok APT
  • ESET Temukan Dua Eksploitasi Zero Day yang Mengancam Dunia

 

 

 

 

Sumber berita:

 

WeLiveSecurity

 

 

Post navigation

Previous Celah Supply Chain QuickFox Sebarkan Malware
Next Saat Asisten AI Menjadi Mata-Mata Rapat Anda

artikel terkini

Menyingkap Bahaya Tersembunyi Data Biometrik Menyingkap Bahaya Tersembunyi Data Biometrik

Menyingkap Bahaya Tersembunyi Data Biometrik

August 26, 2026
Serangan Siber Incar Sistem Infotainment Mobil Android Serangan Siber Incar Sistem Infotainment Mobil Android

Serangan Siber Incar Sistem Infotainment Mobil Android

August 26, 2026
Memahami Musuh di Rumah Sendiri Memahami Musuh di Rumah Sendiri

Memahami Musuh di Rumah Sendiri

August 26, 2026
Malware Android Ini Curi Data Saat Offline Malware Android Ini Curi Data Saat Offline

Malware Android Ini Curi Data Saat Offline

August 24, 2026
Celah Spring Security Buka Akses Admin Tanpa Otentikasi Celah Spring Security Buka Akses Admin Tanpa Otentikasi

Celah Spring Security Buka Akses Admin Tanpa Otentikasi

August 24, 2026
Panggilan AI Bajak Rekening Bank Panggilan AI Bajak Rekening Bank

Panggilan AI Bajak Rekening Bank

August 24, 2026
Menghadapi Risiko Ancaman Orang Dalam di Perusahaan Menghadapi Risiko Ancaman Orang Dalam di Perusahaan

Menghadapi Risiko Ancaman Orang Dalam di Perusahaan

August 21, 2026
Modus Afiliasi Ransomware Menyamar Jasa Pemulihan Modus Afiliasi Ransomware Menyamar Jasa Pemulihan

Modus Afiliasi Ransomware Menyamar Jasa Pemulihan

August 21, 2026

Lainnya

Menyingkap Bahaya Tersembunyi Data Biometrik Menyingkap Bahaya Tersembunyi Data Biometrik
4 min read
  • Edukasi
  • Sektor Personal
  • Teknologi
  • Tips & Tricks

Menyingkap Bahaya Tersembunyi Data Biometrik

August 26, 2026
Serangan Siber Incar Sistem Infotainment Mobil Android Serangan Siber Incar Sistem Infotainment Mobil Android
3 min read
  • Teknologi

Serangan Siber Incar Sistem Infotainment Mobil Android

August 26, 2026
Memahami Musuh di Rumah Sendiri Memahami Musuh di Rumah Sendiri
5 min read
  • Sektor Bisnis
  • Sektor Personal

Memahami Musuh di Rumah Sendiri

August 26, 2026
Malware Android Ini Curi Data Saat Offline Malware Android Ini Curi Data Saat Offline
3 min read
  • Mobile Security
  • Sektor Personal

Malware Android Ini Curi Data Saat Offline

August 24, 2026
PROSPERITA IT News | DarkNews by AF themes.