Risiko Open Banking

Open banking memberi banyak kemudahan bagi penggunanya, terutama dalam pengelolaan keuangan. Meski demikian risiko open banking juga bukan seuatu yang bisa dianggap remeh.

Open banking atau Perbankan terbuka adalah sistem yang memungkinkan mengarahkan lembaga keuangan untuk membagikan informasi akun Anda dari bank  dengan aplikasi atau layanan pihak ketiga mana pun yang Anda pilih.

Misalnya, Anda dapat memusatkan semua akun di satu bank (melalui platform FinTech) atau mendapatkan akses ke kredit dari vendor tertentu,

Atau hanya memberikan persetujuan untuk aplikasi yang mengelola anggaran dan pengeluaran untuk mengakses informasi secara real time tentang setiap pembelian atau transfer yang Anda lakukan.

Maraknya open banking, mendorong regulator dan pembuat undang-undang di seluruh dunia mulai atau terus berupaya menerapkan perbankan terbuka.

Mewajibkan bank untuk mengoordinasikan berbagi informasi dan, seperti yang diyakini oleh mereka yang mendorong kebijakan ini, untuk mendorong inovasi, persaingan, dan transparansi dalam sektor perbankan tradisional yang lebih konservatif.

Selain itu, pelanggan akan diberikan penawaran baru yang disesuaikan dengan kebutuhan (dan anggaran) mereka. Tapi bagaimana dengan privasi kita?

Baca juga: Operasi Penipuan Siber Incar Perbankan Asia Tenggara 

Transaksi Perbankan

Bicara berbagi informasi perbankan sama dengan bicara privasi. Coba luangkan waktu sebentar untuk melihat 20 transaksi perbankan terakhir Anda.

Dari apa yang terlihat sudah cukup untuk membuat profil dengan memahami kebiasaan Anda, dan bahkan menarik kesimpulan tentang status kesehatan.

Transaksi yang biasa kita lakukan:

  • Penggunaan transportasi umum.

  • Belanja sehari-sehari.

  • Tagihan-tagihan.

  • Mengenai masalah kesehatan (pergi ke dokter dan apotek).

  • Lebih sering memasak, daripada pergi ke restoran (tetapi, ketika pergi ke restoran, jelas di mana dan berapa banyak yang telah habiskan).

  • Memesan perjalanan bus jarak jauh.

Singkatnya, data perbankan mengungkapkan banyak hal tentang kehidupan kita yang dapat dimanipulasi untuk kejahatan siber.

Baca juga: Malware Perbankan Baru Sedot Puluhan Ribu Korban

Standar Open Banking

Pemerintah Inggris, pelopor perbankan terbuka, percaya bahwa pada September 2023, 60% penduduk Inggris akan menggunakan open banking.

Meskipun ini adalah angka yang mengesankan, ini juga merupakan hasil dari upaya bersama negara untuk menerapkan standar perbankan terbuk.

Bersama dengan standar API yang menentukan bagaimana data keuangan harus dibuat dan dibagikan dan bagaimana akses ke data keuangan harus disediakan.

Sementara itu, Australia telah mendorong perbankan terbuka dan berbagi data melalui kebijakan hak data konsumennya. Termasuk Amerika Utara dan Latin, masih terus berupaya dengan undang-undang mereka sendiri

Di Amerika Serikat, di mana adopsi perbankan terbuka lambat, Biro Perlindungan Keuangan Konsumen telah mengemukakan beberapa kekhawatiran.

Terutama terkait dengan persyaratan apa yang akan dikenakan pada pihak ketiga untuk memastikan perlindungan data, batasan apa yang akan ditetapkan pada data privasi, dan teknologi apa yang akan diizinkan.

Selain itu, Biro juga prihatin dengan lembaga keuangan yang lebih kecil dan bagaimana (dan apakah) mereka dapat mengikuti peraturan ini.

Risiko Open Banking

Sementara beberapa negara mungkin membuat pedoman yang lebih ketat untuk menetapkan aplikasi dan vendor mana yang dapat memanfaatkan perbankan terbuka, risikonya melampaui privasi dan berlanjut ke serangan siber:

  • Serangan phising pada pelanggan adalah hal biasa. Jika mengeklik tautan yang salah dan memasukkan kredensial bank Anda di situs web palsu menjadi masalah hari ini, bayangkan seberapa besar risiko serangan seperti itu jika Anda disesatkan untuk menyerahkan akses ke aplikasi yang mengumpulkan riwayat keuangan lengkap Anda dan penjahat dapat menguras rekening bank Anda .

  • Aplikasi seluler nakal mungkin membuat Anda percaya bahwa itu adalah aplikasi asli dengan fitur perbankan terbuka dan akan meminta kredensial perbankan.

  • Kebocoran data dapat mengungkap riwayat keuangan lengkap ribuan orang yang mempercayai penyedia layanan yang diserang.

  • Pengiklan mungkin membayar untuk melihat data Anda, dan pengiklan jahat bahkan mungkin menggunakan data Anda tanpa persetujuan.

  • Serangan APT dapat menargetkan orang-orang tertentu.

  • Serangan lain mungkin membahayakan infrastruktur aplikasi atau memanfaatkan kerentanan.

Baca juga: Revolusi Perbankan Seluler dan Risikonya

Prospek Masa Depan

Tren terus berlanjut dan perbankan terbuka sedang dibahas di seluruh dunia. Namun kecepatan pengadopsiannya tidak akan sama di semua tempat.

Hal ini dikarenakan ketersediaan akses internet seluler, atau ketika akses internet secara keseluruhan masih menjadi tantangan di banyak daerah.

Pada saat yang sama, masalah keamanan siber seputar risiko open banking menghadirkan tantangan yang tidka sederhana dan mungkin berlanjut.

Data sangat penting, mudah melihat bagaimana sebagian besar perusahaan besar memperoleh layanan di berbagai bidang: kesehatan, perbankan, produk teknologi, pasar, sekaligus.

Memberi mereka kesempatan untuk menghubungkan semua bidang yang berbeda ini dan mencocokkannya dengan data rekening bank kita, pada kenyataannya, dapat meningkatkan pengalaman pengguna dengan perusahaan-perusahaan ini dan membawa perbankan tradisional ke ruang teknologi yang lebih inovatif. Tapi itu pasti juga mengharuskan kita untuk menyerahkan beberapa informasi paling pribadi yang kita miliki.

 

Baca lainnya: 

 

Sumber berita:

 

WeLiveSecurity