Orangtua di Indonesia Malas Bahas Keamanan Siber dengan Anak

Belum pulihnya dunia dari pandemi yang berkepanjangan, banyak hal mempengaruhi kehidupan masyarakat terutama bagi anak-anak yang masih terus terkukung oleh keadaan dan harus dibatasi aktivitasnya. Situasi ini mendorong anak lebih aktif menggunakan internet, baik untuk belajar, bermain atau tujuan lainnya. Meningkatnya keterlibatan anak di dunia maya juga membawa risiko tinggi atas keamanan mereka mulai dari pencurian identitas sampai predator seks.

Di Indonesia kejahatan siber pada anak juga marak terjadi, di tahun 2020 saja KPAI menerima 526 pengaduan kasus kejahatan anak di dunia maya dimana pornografi menempati urutan pertama sebagai laporan kasus terbanyak disusul korban kejahatan seksual, korban pornografi dan korban bullying mengikuti di belakangnya berturut-turut. Laporan semacam ini biasanya hanya sebagian kecil saja dari yang terlihat, karena biasanya sebagian besar orang enggan melaporkan karena malu.

Saat ini anak-anak merupakan generasi digital serta kelompok pengguna internet paling rentan. Dengan meningkatnya keterlibatan anak-anak di dunia internet, risiko potensi paparan mereka terhadap berbagai konten yang tidak pantas seksual, pornografi, kekerasan, manipulasi, pelecehan dan eksploitasi otomatis juga meningkat. Dalam hal ini, orangtua sebenarnya memegang peran utama di dalamnya karena anak adalah bagian tanggung jawab dari orangtua.

Baca juga: Gawat Orangtua Lebih Percaya Aplikasi Stalkerware daripada Parental Control

Survei ESET

Rawannya anak menjadi korban kejahatan siber merupakan keprihatinan kita bersama, sebagai bagian dari kepedulian, ESET melakukan riset di kawasan Asia Pasific termasuk Indonesia di dalamnya. Riset ini menyoroti bagaimana perilaku orangtua terhadap anak yang berkaitan dengan keamanan siber, untuk melihat adakah celah ditinggalkan yang menjadi jalan bagi penjahat siber untuk mengeksploitasi anak-anak.

Seperti yang terlihat dari data yang diperoleh melalui survei ESET, terungkap bahwa 95% responden yang merupakan orang tua dari Indonesia tidak pernah berbicara dengan anak-anak mereka tentang keamanan siber, dan angka ini tetap tinggi secara signifikan di kawasan ini, lebih dari tiga dari empat (77%) responden di seluruh APAC tidak pernah berbicara dengan anak-anak mereka tentang masalah ini.

Untuk memastikan bahwa anak di bawah umur dilindungi di dunia digital, orang tua harus memiliki andil dalam menunjukkan ancaman yang ditimbulkan oleh dunia online. 14% orang tua dari Indonesia juga mengatakan bahwa anak-anak mereka telah terpapar konten yang tidak pantas secara online.

Namun kabar baiknya, sebagian besar orang tua (95%) di Indonesia mengambil tindakan untuk memastikan keamanan online anak mereka. Metode populer termasuk membatasi jumlah waktu yang dihabiskan anak mereka untuk online (31%), menggunakan aplikasi parental control (26%), memeriksa aplikasi apa yang diinstal pada perangkat anak mereka (25%).

Baca juga: Bahaya Mengunduh Bagi Anak Orangtua Wajib Pahami Tips Ini


Orangtua di Indonesia sepertinya tipe sedikit bicara banyak bekerja, terlihat tidak peduli dengan tidak banyak bicara tentang keamanan siber terhadap-anak, tapi mereka lebih proaktif dalam mengambil tindakan preventif untuk melindungi anak-anaknya. Meski demikian, komunikasi tetap harus dibangun dengan anak, jangan sampai celah ini mempengaruhi keamanan siber anak saat mereka beraktivitas di dunia maya.

Baca juga: Bagaimana Orangtua Menghadapi Transisi Anak di Media Sosial

Kontrol privasi

Pastikan untuk membantu atau mengingatkan anak agar mengatur kontrol privasi di jejaring sosial mereka, termasuk juga konsol game yang mereka mainkan.

Internet penuh dengan penjahat dunia maya yang tidak bermoral yang melihat anak-anak sebagai sasaran empuk. Sebagai orang tua, sudah seharusnya memastikan anak-anak terlindungi saat mereka online. Selain menggunakan parental control dan memeriksa pengaturan privasi secara teratur, penting juga bagi orangtua untuk terus berkomunikasi dengan anak-anaknya tentang bahaya online.

Bicaralah dengan mereka dan sering-seringlah memeriksanya. Perhatikan bahasa tubuh mereka karena ini bisa memberi Anda petunjuk tentang hal-hal yang mungkin mereka sembunyikan. Biarkan mereka tahu bahwa mereka dapat datang kapan pun kepada orangtuanya, apa pun yang terjadi.

 

Baca lainnya: